Aku adalah orang yang sangat sukses, setidaknya dimata orang tua dan orang-orang di sekelilingku. Memang, aku tidak pernah memperlihatkan betapa penderitaanku selama ini semakin memuncak. Aku bahkan seperti junkie dengan candunnya, yang sangat sulit untuk berpisah dengan kesusahaan. Bajai jeram yang sangat deras dan curam, kehidupanku begitu sempurna diatur oleh Sang Maha Kuasa. Mulai dari "kegagalan" masuk ke sekolah anjuran paman dan bapak-ku yang saat itu sangat mengharap aku untuk segera memberikan kontribusi kepada keluarga karena kurang sempurnanya mataku. Bahkan saat mantan ketua OSIS di SMP ini telah sah diterima di SMU kebanggaan di Kabupaten Ciamis, masih saja cobaan itu menggelayut dalam hari-harikua. Dimulai saat benak bapak-ku dijejali dengan issue-issue seputar tempat dimana aku akan tinggal saat menimba ilmu di Kota Kabupaten itu yang katanya adalah tempat bersarangnya preman-preman yang menyeramkan. Aku tahu bapak sangat sayang padaku, sehingga beliau memutuskan untuk mencari "alternatif" pilihan tempatku belajar, walaupun saat itu semua pendaftaran ke SMU Negeri sudah ditutup. "Biar, walaupun lewat belakang dan berapapun biayanya, aku akan penuhi" ujarnya saat aku mempertanyakan tindakannya.
Aku memang mantan ketua OSIS di SMP, tapi aku masih belum cukup berani untuk menentukan sikap dimana aku ini seharusnya belajar. Aku belum punya keberanian untuk sekedar mengatakan "Tidak" kepada bapak yang saat itu penuh kekhawatiran karena akan ditinggal anak lelaki pertamanya, walaupun kujanjikan setiap Sabtu pulang dari tempat kos. Sesungguhnya saat peristiwa-peristiwa ini terjadi Tuhan telah menunjukkan bahwa pada saat itu semua yang ada dalam fikiranku adalah benar adanya dan pendapat dari bapak memang salah. Seharusnya aku menyadari ini jauh sebelum aku terpuruk, sebelum aku banyak menemui kegagalan dalam perjalanan kehidupanku. Ya... kegagalan hanya karena aku tidak berani mengungkapkan apa yang aku anggap benar dan berusaha mempertahankannya dari serangan pendapat orang lain. Belakangan baru aku menyadari bahwa inilah salah satu sifat buruk yang aku pelihara sejak kecil, takut jika harus bertentangan dengan orang lain, tak mau jika aku sampai dimusuhi orang lain hanya karena beda pendapat. Ini salahku, dan tak ada yang dapat bertanggung jawab atas apa yang aku jalani selain diriku sendiri.
Menyesakkan jika akhirnya aku harus jadi seorang yang dicintai orang lain didepanku, tanpa aku tahu sikap mereka dibelakangku saat itu seperti apa.
Sabtu, 09 Februari 2008
Langganan:
Postingan (Atom)
